Categories Teknologi

Sering Tergocek? Begini Cara Bedakan Foto Asli dan Foto AI

Bandung – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini telah melahirkan era baru dalam dunia visual. Foto-foto yang dihasilkan AI tampak begitu realistis, hingga mata manusia sering kali sulit membedakannya dari foto asli. Dari wajah manusia yang ekspresif, pemandangan alam yang menakjubkan, hingga foto produk yang terlihat sempurna, semua bisa diciptakan hanya dengan mengetikkan perintah singkat pada sistem AI seperti Midjourney, DALL·E, atau Stable Diffusion. Namun, di balik kecanggihan itu, muncul tantangan besar: bagaimana cara membedakan mana foto yang asli dan mana yang merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan?

Dalam konteks media sosial dan pemberitaan digital, manipulasi visual kini menjadi hal yang sangat mungkin dilakukan siapa pun. Maka dari itu, mengenali tanda-tanda foto buatan AI menjadi keterampilan penting di era informasi yang serba cepat ini.

Anatomi Tubuh Manusia yang Ganjil

Salah satu cara untuk membedakannya adalah dengan memperhatikan detail wajah dan tangan. AI memang telah berkembang sangat pesat, tetapi masih sering kesulitan dalam menggambarkan anatomi manusia secara sempurna. Misalnya, jumlah jari pada tangan bisa lebih dari lima, bentuknya tampak ganjil, atau posisi jarinya terlihat kaku dan tidak alami. 

Pada bagian wajah, ketidaksimetrisan juga sering terjadi. Mata bisa berbeda ukuran, gigi terlihat terlalu rapi hingga terkesan palsu, atau rambut di sekitar telinga tampak kabur dan tidak jelas. Kejanggalan kecil seperti ini biasanya menjadi petunjuk bahwa gambar tersebut bukanlah hasil tangkapan kamera sungguhan.

Latar Belakang yang Tampak Aneh

Selain dari anatomi, latar belakang dalam foto AI sering kali  mengandung ketidakkonsistenan logika visual. Sekilas, gambar terlihat indah dan detail, namun jika diperhatikan dengan saksama, akan tampak hal-hal yang tidak masuk akal: jalanan yang bengkok secara aneh, tulisan di papan nama yang tidak bisa dibaca, atau objek yang terlihat seperti “melayang.” Hal ini disebabkan oleh cara kerja AI yang mengandalkan pola data, bukan pemahaman terhadap realitas fisik dunia. Karena itu, AI dapat membuat sesuatu yang tampak realistis tetapi tidak benar-benar logis.

Pencahayaan yang Tidak Konsisten

Pencahayaan juga menjadi salah satu aspek yang sering mengungkapkan keaslian sebuah foto. Foto yang diambil secara nyata biasanya memiliki pencahayaan dan bayangan yang konsisten sesuai dengan arah datangnya cahaya. Namun pada gambar AI, arah cahaya sering tidak masuk akal. Misalnya, wajah seseorang tampak disinari dari dua sisi sekaligus, sementara bayangan jatuh ke arah yang berbeda. Selain itu, permukaan kulit pada foto AI sering terlihat terlalu mulus dan mengilap, membuatnya tampak seperti hasil airbrush. Meskipun indah secara estetika, hal ini justru menghilangkan tekstur alami yang seharusnya dimiliki manusia.

Teknologi Deteksi AI

Jika ingin memastikan keaslian foto secara lebih teknis, kini tersedia berbagai alat pendeteksi digital seperti AI or Not, Hugging Face Detector, dan Deepfake Detector. Alat-alat ini menganalisis struktur piksel serta metadata dari sebuah gambar. Teknologi ini sangat membantu jurnalis, desainer, maupun pengguna media sosial dalam memverifikasi kebenaran sebuah foto sebelum dibagikan lebih luas.

Namun, di luar semua alat pendeteksi yang tersedia, intuisi manusia tetap memiliki peran penting. Naluri manusia yang terbiasa membaca ekspresi dan suasana nyata sering kali dapat menangkap ketidakwajaran dari emosi yang dipancarkan gambar AI. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh algoritma, tetapi bisa dirasakan secara intuitif.

Kemampuan membedakan foto AI dari foto asli bukan hanya persoalan teknis semata, melainkan juga bentuk dari kesadaran digital. Di tengah arus informasi yang kian cepat dan mudah dimanipulasi, literasi visual menjadi benteng pertama agar masyarakat tidak mudah tertipu oleh konten yang menyesatkan. Seperti yang diungkapkan James Vincent dalam artikelnya di The Verge (terbitan Oktober 2025), “AI images are not just about art, they reshape how we define authenticity in the digital world.

Referensi: 

The Verge, AI or Not Detector Tool, Hugging Face

Written By

More From Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Perkuat Ketahanan Pangan, DKPP Kota Bandung Transformasi Aplikasi E-Laman Hati Jadi Berbasis Data

BANDUNG – Pada Jumat (19/12) Telkom University dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota…

Modernisasi Pertanian Desa Wareng: Telkom University Serah Terima Alat Pengukur pH Tanah Berbasis IoT

GUNUNGKIDUL – Tim dosen dan mahasiswa Universitas Telkom (Telkom University) sukses menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada…

Tingkatkan Kedisiplinan Siswa, Tim Abdimas Telkom University Implementasikan Sistem Presensi Fingerprint di SMAN 24 Bandung

BANDUNG – Era digital menuntut institusi pendidikan untuk terus berinovasi dalam manajemen sekolah. Menjawab tantangan…