BANDUNG – Era digital menuntut institusi pendidikan untuk terus berinovasi dalam manajemen sekolah. Menjawab tantangan tersebut, pada (8/12) Senin, tim Pengabdian Masyarakat (Abdimas) dari Telkom University sukses melaksanakan program digitalisasi sistem kehadiran melalui implementasi sistem presensi berbasis fingerprint di SMAN 24 Bandung.
Sistem yang diberi nama “Presentia” ini hadir sebagai solusi atas permasalahan presensi manual yang selama ini dinilai rentan terhadap kesalahan input, risiko kecurangan (titip absen), dan kurangnya efisiensi waktu. Dengan teknologi biometrik sidik jari, data kehadiran siswa tercatat secara otomatis, akurat, dan real-time.
Modernisasi Administrasi Sekolah Ketua tim pengabdian mengungkapkan bahwa pemilihan teknologi fingerprint didasarkan pada tingkat keamanan yang tinggi karena setiap sidik jari bersifat unik. “Kami ingin membantu SMAN 24 Bandung beralih dari administrasi konvensional ke digital. Sistem ini tidak hanya mencatat jam datang dan pulang, tapi juga memudahkan pihak sekolah dalam mengelola data secara transparan,” ujarnya.
Sistem ini berbasis web dan cloud, yang memungkinkan manajemen sekolah memantau kehadiran siswa kapan saja. Selain itu, transparansi ini diharapkan dapat memberikan rasa tenang bagi orang tua dalam memantau kedisiplinan anak-anak mereka di sekolah.
Pelatihan dan Pendampingan Intensif Tak hanya sekadar memberikan perangkat keras, tim Telkom University juga memberikan pelatihan intensif kepada para guru, staf tata usaha, dan perwakilan siswa. Pelatihan ini mencakup cara registrasi sidik jari, pengelolaan database, hingga cara mengatasi kendala teknis ringan.
Pihak SMAN 24 Bandung menyambut positif inovasi ini. Dengan adanya sistem ini, beban administrasi guru piket berkurang signifikan, sehingga mereka bisa lebih fokus pada pelayanan pendidikan lainnya.
Keberhasilan implementasi di SMAN 24 Bandung ini diharapkan dapat menjadi standar acuan yang mampu menginspirasi dan diadopsi oleh sekolah-sekolah lain, baik di tingkat wilayah maupun nasional. Transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk membangun ekosistem pendidikan yang lebih disiplin, efisien, dan akuntabel.

