Categories Kesehatan

Manfaat Puasa bagi Kesehatan: Fakta Medis di Balik Ibadah

Bandung – Puasa kerap dipahami sebatas kewajiban spiritual atau rutinitas tahunan yang identik dengan menahan lapar dan dahaga. Namun, di balik praktik yang telah dijalani manusia selama berabad-abad ini, puasa menyimpan manfaat kesehatan yang semakin mendapat perhatian dari dunia medis dan sains modern. Berbagai kajian kesehatan menunjukkan bahwa puasa bukan hanya soal ibadah, tetapi juga tentang memberi jeda bagi tubuh untuk memperbaiki diri.

Bagi banyak orang, puasa dilakukan oleh umat Muslim di seluruh dunia pada bulan Ramadan, atau oleh individu tertentu sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Waktunya pun jelas, yakni dalam periode tertentu yang membatasi jam makan dan minum. Di mana pun praktik ini dijalankan, dari rumah sederhana hingga kota besar seperti Bandung, dampaknya terhadap tubuh manusia relatif serupa: tubuh dipaksa beradaptasi dengan pola asupan yang lebih teratur dan terbatas.

Alasan mengapa puasa dinilai bermanfaat bagi kesehatan terletak pada mekanisme alami tubuh. Saat tidak menerima asupan makanan selama beberapa jam, tubuh mulai menggunakan cadangan energi, menurunkan kadar gula darah, serta meningkatkan sensitivitas insulin. Kondisi ini membantu mengurangi risiko penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2. Selain itu, organ pencernaan yang biasanya bekerja tanpa henti mendapat waktu istirahat, sehingga fungsinya dapat kembali lebih optimal.

Dari sisi bagaimana puasa bekerja, tubuh memasuki fase yang disebut metabolic switching, yakni peralihan sumber energi dari glukosa ke lemak. Proses ini tidak hanya membantu pengendalian berat badan, tetapi juga memicu regenerasi sel melalui mekanisme autophagy, sebuah proses “pembersihan” sel-sel rusak yang penting bagi kesehatan jangka panjang. Bahkan, dari perspektif neurosains, puasa disebut berpotensi meningkatkan fungsi kognitif dan ketahanan otak terhadap stres.

Meski demikian, manfaat puasa tidak serta-merta hadir tanpa kesadaran dan pola yang tepat. Cara menjalankan puasa menjadi faktor penentu. Asupan makanan saat sahur dan berbuka yang berlebihan, tinggi gula, serta rendah nutrisi justru dapat meniadakan manfaat kesehatan yang diharapkan. Puasa idealnya dijalani dengan pola makan seimbang, cukup cairan, serta diiringi istirahat yang memadai.

Pada akhirnya, puasa mengajarkan manusia tentang keseimbangan: antara kebutuhan tubuh dan pengendalian diri. Lebih dari sekadar ritual, puasa adalah momentum refleksi untuk hidup lebih teratur dan sadar akan kesehatan. Jika dijalani dengan benar, puasa bukan hanya menyehatkan raga, tetapi juga menenangkan pikiran sebuah kombinasi yang semakin relevan di tengah gaya hidup modern yang serba cepat.

Sumber :pom.go.id, halodoc.com, rspondokindah.co.id

More From Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Benarkah Kopi Bisa Redakan Depresi? Ini Faktanya!

Bandung – Kopi kerap hadir sebagai teman setia di pagi hari, peneman lembur, hingga pengusir…

Bersatu dalam Keunikan, Menata Ulang Layanan Kanker di Hari Kanker Sedunia 2026

Bandung – Hari Kanker Sedunia 2026 yang diperingati setiap 4 Februari kembali menjadi pengingat bahwa…

Mengenal Virus Nipah, Penyakit Mematikan yang Mulai Jadi Perhatian Dunia

Bandung – Dunia kembali diingatkan bahwa ancaman pandemi tidak benar-benar hilang, melainkan hanya sedang “beristirahat”.…