Bandung, 15 Juni 2026—Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak Februari 2026. Pengumuman tersebut disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social pada Minggu, 14 Juni 2026. Kesepakatan ini menandai langkah penting dalam upaya mengakhiri ketegangan di kawasan Timur Tengah sekaligus membuka kembali Selat Hormuz yang selama beberapa bulan terakhir menjadi pusat perselisihan kedua negara.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah rampung dan akan segera diikuti dengan pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran. Selain itu, Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dan gas dunia akan kembali dibuka untuk pelayaran internasional. Pengumuman serupa juga disampaikan oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang selama ini berperan sebagai mediator dalam proses negosiasi antara kedua negara.
Kesepakatan damai tersebut bertujuan mengakhiri perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran sejak 28 Februari 2026. Konflik berkepanjangan tersebut telah menimbulkan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah dan berdampak pada rantai pasok energi global. Pada April 2026, kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata untuk membuka ruang dialog, meskipun beberapa insiden militer masih terjadi di tengah proses negosiasi.
Salah satu poin utama dalam kesepakatan ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Trump menyatakan bahwa dirinya telah memberikan otorisasi penuh untuk membuka jalur pelayaran tersebut tanpa biaya tambahan serta mengakhiri blokade angkatan laut AS terhadap Iran. Sementara itu, Deputi Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengungkapkan bahwa nota kesepahaman antara kedua negara telah selesai disusun dan implementasi kesepakatan akan segera dimulai setelah penandatanganan resmi dilakukan.
Proses menuju perdamaian tidak berlangsung tanpa hambatan. Beberapa jam sebelum pengumuman kesepakatan, ketegangan sempat meningkat akibat serangan Israel di Lebanon yang memicu respons dari Iran. Trump bahkan secara terbuka mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena dinilai mengganggu proses perdamaian yang tengah berlangsung. Meski demikian, negosiasi tetap berlanjut hingga menghasilkan kesepakatan yang diumumkan pada pertengahan Juni 2026.
Dampak positif dari pengumuman tersebut langsung terlihat pada pasar energi global. Harga minyak mentah AS tercatat turun lebih dari 4,5 persen menjadi sekitar 80 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Brent turun sekitar 4 persen ke level 83 dolar AS per barel. Penurunan harga ini mencerminkan optimisme pasar terhadap stabilitas pasokan energi global setelah meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Penandatanganan resmi perjanjian damai dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 19 Juni 2026, di Swiss. Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi bahwa dirinya berencana menghadiri upacara tersebut, meskipun kehadiran Presiden Trump masih menunggu keputusan akhir. Menurut Vance, kesepakatan ini merupakan langkah besar menuju hubungan yang lebih stabil antara kedua negara setelah berbulan-bulan berada dalam konflik terbuka.
Kesepakatan damai antara AS dan Iran diharapkan dapat menciptakan stabilitas yang lebih berkelanjutan di Timur Tengah serta mengurangi risiko gangguan terhadap perdagangan energi dunia. Selain menjadi tonggak penting dalam hubungan diplomatik kedua negara, keberhasilan proses negosiasi ini juga menunjukkan pentingnya dialog dan kerja sama internasional dalam menyelesaikan konflik yang berdampak luas terhadap keamanan dan perekonomian global.
Referensi: Kompas.com, Idntimes.com

