Bandung – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai dijalankan pemerintah sejak awal 2025 jadi salah satu topik hangat di bidang kesehatan dan gizi. Tujuannya memastikan anak sekolah dan kelompok rentan bisa mendapat makanan bergizi setiap hari. Tapi di balik niat baik itu, para ahli gizi punya sejumlah catatan penting agar program ini benar-benar efektif dan tidak cuma sekadar “buang-buang anggaran.”
Salah satu ahli gizi, dr. Tan Shot Yen, menyoroti bahwa beberapa menu MBG masih jauh dari konsep gizi seimbang.
“Saya miris melihat menu seperti burger, spaghetti, dan chicken katsu. Itu semua makanan ultra-proses, bukan pangan lokal kita,” ujarnya dalam wawancara dengan Detik Health (2025).
Menurutnya, MBG seharusnya menjadi sarana edukasi gizi, bukan hanya menyajikan makanan yang menarik secara visual.

“Kalau disebut bergizi, seharusnya berbasis bahan alami dan lokal, misalnya tempe, sayur, (dan) ikan. Bukan tepung terigu impor,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), dr. Ikeu Tanziha, menekankan pentingnya peran ahli gizi dalam setiap tahap pelaksanaan.
“Ahli gizi perlu dilibatkan dari penyusunan menu, pengawasan dapur, sampai evaluasi hasil agar kualitas dan keamanan makanan tetap terjaga,” katanya kepada Antara News (2025).
Ikeu juga berharap MBG tidak berhenti pada pembagian makanan, tapi bisa menjadi pintu masuk edukasi tentang gizi seimbang di kalangan pelajar.
Beberapa kasus keracunan makanan yang muncul di sejumlah daerah juga membuat para pakar menyoroti sisi keamanan pangan. Dalam rilis resminya, pakar gizi dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menyebut bahwa standar kebersihan harus diperketat.
“Mulai dari dapur, penyimpanan, sampai distribusi ke sekolah perlu diawasi ketat. Jangan sampai niat baik malah menimbulkan risiko baru,” tulis tim ahli UMJ di laman umj.ac.id (2025).
Dari sisi kebijakan, lembaga riset Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), menilai bahwa tata kelola MBG masih belum kuat.
“Program sebesar ini butuh dasar hukum yang jelas, misalnya lewat Peraturan Presiden, agar koordinasi antar lembaga berjalan efektif,” tulis CISDI dalam siaran persnya (2025).
Meski begitu, para ahli sepakat bahwa MBG punya potensi besar kalau dijalankan dengan benar.
“Kalau program ini konsisten, berbasis pangan lokal, dan melibatkan ahli gizi di setiap tahap, MBG bisa jadi langkah nyata memperbaiki kualitas gizi anak Indonesia,” tutup Ikeu.
Referensi: Detik Health (2025), Antara News (2025), UMJ.ac.id (2025), CISDI.org (2025)

