Bandung – Mitos larangan pernikahan antara suku Jawa dan suku Sunda masih hidup di sebagian masyarakat hingga kini. Konon, hubungan pernikahan antara kedua suku ini dianggap bisa membawa nasib buruk seperti kemiskinan, rumah tangga yang tidak harmonis, bahkan kesialan turun-temurun. Sebenarnya, dari mana, sih, pemikiran ini berasal?
Tragedi Perang Bubat sebagai Awal Konflik
Asal mula mitos ini sering dikaitkan dengan peristiwa Perang Bubat pada abad ke-14, masa kejayaan Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Dikisahkan, sang raja bermaksud menikahi Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Kerajaan Sunda. Namun kedatangan rombongan Sunda ke Majapahit justru berujung pada pertumpahan darah. Pasukan Sunda yang datang untuk upacara pernikahan malah dianggap musuh oleh Mahapatih Gajah Mada, hingga terjadilah peperangan yang menewaskan banyak orang dari pihak Sunda.
Dyah Pitaloka dan Simbol Kehormatan Sunda
Dyah Pitaloka menjadi simbol kehormatan dalam kisah ini. Setelah melihat ayah dan pengiringnya gugur, ia memilih mengakhiri hidupnya demi menjaga martabat keluarga kerajaan Sunda. Peristiwa tragis ini menimbulkan luka sejarah yang dalam. Akibatnya, di lingkungan bangsawan Sunda kemudian muncul larangan tidak tertulis untuk menikah dengan orang Jawa yang lambat laun diwariskan menjadi mitos di kalangan rakyat biasa.
Perbedaan Budaya yang Memperkuat Sekat
Selain faktor sejarah, perbedaan budaya antara suku Jawa dan Sunda turut memperkuat kesenjangan psikologis. Bahasa, adat, hingga gaya hidup menunjukkan perbedaan karakter, di mana orang Jawa dikenal halus dan penuh tata krama, sementara orang Sunda identik dengan sikap ceria dan terbuka.
Pandangan Modern: Cinta di Atas Tradisi
Di era modern, banyak masyarakat yang mulai memandang mitos ini secara kritis. Sejumlah pasangan Jawa–Sunda membuktikan bahwa perbedaan suku tidak menjadi penghalang keharmonisan rumah tangga. Para sejarawan juga menilai bahwa larangan ini hanyalah tafsir atas peristiwa Bubat, bukan aturan adat resmi. Kini, cinta dan kesiapan emosional dianggap jauh lebih penting daripada latar belakang etnis. Sikap saling menghargai, komunikasi yang baik, dan pemahaman budaya menjadi kunci hubungan lintas suku yang harmonis.
Mitos larangan pernikahan antara orang Jawa dan Sunda merupakan refleksi dari luka sejarah yang diwariskan antar generasi. Meski berasal dari tragedi masa lalu, kisah ini seharusnya menjadi pengingat pentingnya saling menghormati perbedaan dan tidak menilai hubungan berdasarkan prasangka lama. Sejarah boleh menjadi pelajaran, tetapi masa depan pernikahan seharusnya dibangun atas dasar kesetaraan dan kasih sayang, alih-alih mitos belaka.
Referensi:
detik.com, Kumparan.com

