Bandung – OpenAI lagi-lagi bikin gebrakan besar. Perusahaan di balik ChatGPT ini kabarnya siap menggelontorkan dana lebih dari USD 1 triliun untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatannya. Ini bukan jumlah yang sedikit untuk membangun fondasi raksasa untuk masa depan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Tapi, langkah ini juga datang dengan satu tantangan besar, yaitu investasi yang mereka peroleh belum sebanding dengan angka yang mereka anggarkan.
Pengguna Banyak, tapi yang Bayar Sedikit
CEO OpenAI, Sam Altman, pernah menyebut kalau ChatGPT punya sekitar 800 juta pengguna aktif mingguan. Angka yang luar biasa, bukan? Sayangnya, cuma sekitar 5% dari mereka yang berlangganan premium. Artinya, sebagian besar pengguna masih mengandalkan versi gratisan.
Sektor Eropa Mulai Melambat
Awalnya, Eropa jadi salah satu pasar yang paling menjanjikan. Bahkan, pengeluaran pengguna di benua itu untuk ChatGPT sempat lebih tinggi daripada Disney Plus. Kalau seandainya tren itu berlangsung hingga kini, OpenAI bisa menyaingi Spotify di 2027 dan Netflix di 2028.
Tapi sekarang, menurut Deutsche Bank Research Institute, pertumbuhan langganan ChatGPT di Eropa berhenti sejak Mei. Selama empat bulan terakhir, grafiknya stagnan dan lambat laun, hype besar AI mulai menukik turun.
Strategi Baru: Kolaborasi & Monetisasi
Meski begitu, OpenAI tidak tinggal diam. Mereka mulai agresif bekerja sama dengan raksasa chip seperti Nvidia dan AMD, sekaligus membangun kapasitas komputasi sebesar 26 gigawatt, di mana jumlah itu setara dengan kebutuhan listrik seluruh negara bagian New York saat puncak pemakaian.
Masa Depan yang Belum Pasti
Meski OpenAI memulai banyak langkah ambisius secara masif, masih belum jelas apakah semua strategi ini cukup untuk menutup biaya operasional yang membengkak. Altman sendiri menegaskan, fokus utama mereka saat ini bukan profit, tapi memperluas pengaruh AI.
Dengan melambatnya pertumbuhan pengguna berbayar, OpenAI juga mulai mencoba cara yang sedikit ekstrem, yaitu dengan membuka akses ChatGPT terhadap konten berunsur erotis untuk menarik pasar baru.
Investasi USD 1 triliun ini bisa jadi pijakan kuat untuk masa depan AI, tapi sekaligus langkah berisiko tinggi kalau nantinya pemasukan tak mampu mengimbangi pengeluaran.
Referensi:
detik.com, futurism.com

