Bandung – “Segini, Neng, tah, pas hari Minggu,” seorang warga menimpali sesi wawancara tim Warta di jembatan Sungai Citarum di terusan Gang Haji Saleh. Tangan keriputnya menunjuk-nunjuk lutut. Isyarat bahwa ketinggian banjir Minggu (2/11) lalu, yang merendam wilayah Dayeuhkolot dan sekitarnya, mencapai lutut orang dewasa.
Curah hujan yang cukup tinggi, ditambah aliran air yang entah kenapa selalu tersumbat, kerap menjadi kabar buruk bagi penduduk Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Ditambah lagi ketinggian tanah yang relatif rendah, juga pengelolaan sampah yang kurang terpilah menjadikan wilayah industri tersebut langganan banjir tiap tahunnya.
Hingga berita ini diterbitkan pada Selasa (4/11), hampir sepertiga dari bentangan Jalan Raya Dayeuhkolot masih tergenang banjir setinggi betis. Warga berharap, baik pemerintah pusat maupun daerah segera menangani permasalahan ini karena genangan air kotor menghambat lalu lintas dan rutinitas Pasar Dayeuhkolot.

