Bandung – Kawasan Braga sejak lama dikenal sebagai ruang kreatif yang dipenuhi para pelukis jalanan. Mereka menampilkan berbagai karya, mulai dari potret realis, karikatur, hingga lukisan ekspresif yang memikat wisatawan lokal maupun mancanegara. Meski tantangan selalu hadir, banyak pelukis kini justru merasa penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Berdasarkan wawancara Tim Warta Matra, para seniman mengakui bahwa masa pandemi sempat membuat pendapatan mereka turun drastis. Hari-hari sepi tanpa wisatawan menjadi masa paling berat bagi pelukis maupun perajin seni. Namun, situasi berubah ketika arus wisatawan kembali meningkat. Kini, pemasukan mereka mulai stabil dan bahkan naik. Beberapa pelukis menuturkan bahwa mereka sudah mampu menyekolahkan anak hingga tingkat universitas dari hasil berkarya di sepanjang jalan Braga.
Dalam wawancara tersebut, Bapak Jino menyampaikan bahwa keluhan yang paling sering muncul di kalangan seniman adalah ketika tidak ada order sama sekali. Meski demikian, ia tetap bersyukur karena situasi saat ini jauh lebih baik dibanding masa pandemi. Sementara itu, Bapak Iin membagikan pengalaman paling berkesannya: momen ketika ia bertemu langsung dengan Ridwan Kamil, sebuah perjumpaan yang baginya menjadi penghargaan tersendiri sebagai seniman jalanan.
Penghasilan yang semakin stabil tidak terlepas dari kemampuan para pelukis dan seniman tradisional menyesuaikan diri dengan selera pasar. Keberagaman permintaan, mulai dari potret cepat hingga karya untuk souvenir menjadi salah satu faktor penting yang membuat seni jalanan di Braga tetap hidup dan diminati.

