Categories Hiburan

Antara Tragedi Lula Lahfah dan Teka-teki “Whip Pink” yang Belum Usai

Bandung – Publik tanah air baru saja dikejutkan dengan keputusan pihak kepolisian untuk menghentikan penyelidikan atas kematian selebgram Lula Lahfah. Meski penyelidikan penyebab kematian resmi dihentikan karena tidak ditemukannya unsur pidana atau kekerasan, perhatian kini bergeser tajam pada satu detail yang masih menjadi misteri: asal-usul zat bernama “whip pink” atau whipped cream pink yang dikonsumsi korban sebelum mengembuskan napas terakhir.

Kapolres Metro Jakarta Selatan menyatakan bahwa keputusan penghentian kasus ini diambil setelah melalui rangkaian olah TKP dan pemeriksaan saksi yang mendalam. Polisi mengungkapkan jejak terakhir Lula menunjukkan bahwa sehari sebelum ditemukan tewas pada akhir Januari 2026, ia masih beraktivitas normal. Namun, hasil autopsi dan temuan di lokasi kejadian mengarahkan kecurigaan pada penyalahgunaan zat kimia tertentu yang diduga kuat sebagai pemicu kondisi fatal sang selebgram.

Kasus ini menjadi tragis karena memperlihatkan sisi gelap dari tren gaya hidup yang tidak terkontrol. “Whip pink” yang sedang diusut polisi ini bukanlah sekadar krim kue biasa, melainkan zat yang mengandung gas tertentu yang jika dihirup secara berlebihan dapat menyebabkan gagal napas hingga kematian. Polisi menegaskan bahwa meski kasus kematiannya ditutup (karena dianggap sebagai kelalaian pribadi atau kecelakaan tanpa intervensi pihak luar), pengejaran terhadap pengedar atau sumber zat berbahaya tersebut tetap menjadi prioritas utama guna mencegah jatuhnya korban lain.

Secara sosiokultural, peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat, terutama Generasi Z dan Milenial, tentang bahaya laten di balik tren zat adiktif baru yang sering kali dipoles dengan kemasan yang tampak “lucu” atau tidak berbahaya. Kematian Lula bukan sekadar angka dalam berita kriminal, melainkan potret rapuhnya pengawasan terhadap peredaran zat kimia berbahaya di pasar gelap maupun media sosial.

Kini, bola panas ada di tangan penyidik untuk membongkar rantai distribusi “whip pink” tersebut. Tanpa adanya tindakan tegas terhadap asal-usul zat ini, kita hanya sedang menunggu waktu sampai berita duka serupa kembali menghiasi layar ponsel kita. Mari kita jadikan ini sebagai momentum untuk lebih mawas diri dan tidak mudah tergiur oleh tren yang mempertaruhkan nyawa.

sumber:detikcom, kompas.com, liputan6.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Museum Kota Bandung: Liburan Seru, Edukatif, dan Gratis di Jantung Kota

Siapa bilang liburan seru di Bandung harus mahal? Jika kamu mencari destinasi wisata yang edukatif,…

Passion in Action: Nyalakan Spark lewat Campus Roadshow Bandung

Bandung (9/12) — Sasana Budaya Ganesha (SABUGA) Institut Teknologi Bandung dipenuhi antusiasme dalam gelaran Generasi…

Rekomendasi Tumbler 200 ribu-an yang Nyaman Dibawa Bepergian

Belakangan, media sosial ramai membahas fenomena tumbler viral yang mendominasi laman media sosial. Dari banyaknya…