Bandung – Olimpiade Musim Dingin 2026 menjadi salah satu ajang olahraga internasional yang paling dinanti, terutama oleh negara-negara dengan tradisi kuat di cabang olahraga musim dingin. Ajang ini akan digelar pada Februari 2026 di Italia, dengan Milano dan Cortina d’Ampezzo sebagai pusat penyelenggaraan, serta beberapa kota lain yang ikut menjadi venue pertandingan. Olimpiade ini bukan hanya soal perebutan medali, tetapi juga tentang prestise, pembuktian sistem pembinaan atlet, dan kekuatan olahraga sebuah negara di panggung dunia.
Sebagai ajang olahraga musim dingin terbesar, Olimpiade 2026 akan mempertandingkan berbagai cabang, mulai dari ski alpen, ski lintas alam, biathlon, figure skating, speed skating, hingga hoki es. Negara-negara Eropa dan Amerika Utara seperti Norwegia, Jerman, Amerika Serikat, dan Kanada kembali diprediksi menjadi kekuatan utama. Norwegia, khususnya, dikenal sebagai negara yang konsisten berada di papan atas perolehan medali Olimpiade Musim Dingin berkat tradisi panjang, dukungan infrastruktur, dan budaya olahraga yang kuat sejak usia dini.
Italia dipilih sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Selain memiliki lanskap alam yang mendukung cabang olahraga salju dan es, negara ini juga berpengalaman dalam menggelar ajang olahraga internasional berskala besar. Penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin 2026 diharapkan tidak hanya berjalan kompetitif, tetapi juga memberikan dampak ekonomi dan pariwisata bagi wilayah tuan rumah.Bagi negara peserta, Olimpiade Musim Dingin memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kompetisi. Ajang ini menjadi tolok ukur sejauh mana investasi jangka panjang di bidang olahraga, riset, dan sport science mampu menghasilkan prestasi nyata. Negara-negara yang mendominasi biasanya memiliki ekosistem olahraga yang matang, berkelanjutan, dan terintegrasi dari level akar rumput hingga elite.
Di tengah kemeriahan Olimpiade Musim Dingin 2026, Indonesia kembali dipastikan tidak ambil bagian. Absennya Indonesia bukan hal mengejutkan, mengingat keterbatasan geografis sebagai negara tropis yang tidak memiliki musim dingin. Selain faktor alam, minimnya fasilitas, kompetisi, serta pembinaan atlet di cabang olahraga musim dingin membuat Indonesia sulit memenuhi standar kualifikasi Olimpiade.
Meski demikian, absennya Indonesia tidak serta-merta mencerminkan kegagalan olahraga nasional. Justru, kondisi ini bisa dibaca sebagai refleksi realistis tentang fokus dan prioritas pembinaan olahraga. Indonesia selama ini lebih kompetitif di cabang-cabang yang sesuai dengan karakter alam dan budaya olahraga nasional, seperti bulu tangkis, angkat besi, dan beberapa cabang atletik.
Olimpiade Musim Dingin 2026 pada akhirnya tetap relevan bagi publik Indonesia, meski tanpa kehadiran atlet Merah Putih. Ajang ini menjadi pengingat bahwa prestasi olahraga di level dunia tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang ditopang oleh konsistensi kebijakan, dukungan fasilitas, dan budaya olahraga yang kuat. Dari sana, publik bisa belajar bahwa keberhasilan di panggung internasional selalu berangkat dari perencanaan jangka panjang yang serius dan berkelanjutan.
Sumber : detik.com, liputan6.com

