Bandung – Durasi puasa Ramadan tidak sama di setiap belahan dunia. Perbedaan letak geografis membuat umat Muslim di sejumlah negara harus menjalani puasa yang sangat panjang, sementara di negara lain durasinya justru jauh lebih singkat. Fenomena ini kembali menjadi perhatian publik menjelang Ramadan, karena memperlihatkan bagaimana ibadah yang sama dijalani dengan tantangan yang berbeda.
Secara umum, puasa terlama dialami umat Muslim yang tinggal di negara-negara dengan lintang tinggi di belahan bumi utara. Negara seperti Islandia, Norwegia, dan Swedia kerap mencatat durasi puasa hingga 19–21 jam. Hal ini terjadi karena pada periode Ramadan, matahari terbit sangat pagi dan baru terbenam menjelang tengah malam.
Sebaliknya, negara-negara di sekitar garis khatulistiwa dan belahan bumi selatan justru menikmati durasi puasa yang lebih singkat. Di Selandia Baru, Chile, dan sebagian wilayah Afrika Selatan, umat Muslim berpuasa sekitar 11–12 jam. Durasi ini dipengaruhi oleh posisi matahari yang lebih seimbang antara siang dan malam.
Perbedaan durasi puasa ini terjadi setiap tahun, bergantung pada pergerakan kalender Hijriah yang lebih pendek dibanding kalender Masehi. Ramadan terus bergeser sekitar 10–11 hari lebih awal setiap tahunnya, sehingga posisi musim dan panjang siang-malam ikut berubah. Ketika Ramadan jatuh di musim panas belahan bumi utara, negara-negara di wilayah tersebut menghadapi puasa terpanjang.
Bagi umat Muslim di negara dengan durasi puasa ekstrem, tantangan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mental dan sosial. Mereka harus mengatur waktu kerja, istirahat, serta ibadah dengan lebih disiplin. Dalam beberapa kasus, ulama setempat memberikan keringanan dengan mengikuti jadwal puasa negara terdekat yang lebih moderat atau merujuk pada waktu di Makkah.
Sementara itu, di negara seperti Indonesia, durasi puasa relatif stabil, berkisar 12–13 jam. Kondisi ini sering dianggap “ideal” karena tidak terlalu panjang maupun terlalu singkat. Namun, esensi puasa sejatinya tidak terletak pada lamanya waktu menahan lapar dan dahaga, melainkan pada kualitas pengendalian diri dan kepedulian sosial.
Pada akhirnya, perbedaan durasi puasa di berbagai negara menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang universal dan adaptif terhadap kondisi alam. Ujian setiap Muslim memang berbeda, tetapi tujuan ibadah tetap sama: meningkatkan ketakwaan dan empati terhadap sesama.
Sumber : garuda.tv , detik.com, metrotvnews.com

