Di balik hiruk pikuk demonstrasi yang kerap memenuhi jalanan kota, ada wajah-wajah lain yang jarang tersorot kamera: para pedagang kaki lima. Kehadiran mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika ruang publik saat demonstrasi berlangsung.
Dibuka dengan Farhan, penjaja Kopi Sangar yang mengaku bahwa setiap kali ada aksi mahasiswa, dagangannya justru laris.
“Terbantu, sih, terbantu, banyak yang beli. Dari mulai mahasiswa sampai masyarakat juga ada yang mampir sebelum aksi dimulai,” ujarnya. Bagi Farhan, demonstrasi menghadirkan keramaian yang berarti peluang ekonomi.
Hal serupa dirasakan oleh Pak Tono, penjual somai berusia 53 tahun. Ia menyebut pendapatannya bisa melonjak dua kali lipat saat demo berlangsung.
“Kalau sehari-hari paling Rp50 ribu, tapi kalau ada demo bisa lebih dari Rp100 ribu,” katanya. Meski demikian, ia tetap menitipkan pesan kepada pemerintah agar mendengar suara rakyat dan menstabilkan harga kebutuhan pokok.
Namun, tidak semua pedagang merasakan hal serupa. Ibu Sekartini, yang sudah berjualan sejak 2003, mengaku sering harus pulang lebih cepat jika aksi berubah ricuh.
“Kalau demo rusuh, kita enggak nyaman. Takut kena imbas, jadi mending pulang cari aman,” tuturnya. Baginya, demonstrasi bisa membantu dagangan, tetapi risiko keamanan tetap menjadi pertimbangan utama.
Ungkapan senada datang dari Pak Teguh, pedagang yang biasa mangkal di sekitar Museum Geologi. Ia pernah terkena gas air mata saat aksi berlangsung.
“Saya sampai pingsan, dibawa mahasiswa ke ambulans, dikasih oksigen. Untung ada mahasiswa yang nolong. Dagangan saya juga diamanin sama anak-anak mahasiswa,” kenangnya.
Meski begitu, ia tetap mengakui bahwa demonstrasi membuat dagangannya lebih laris, bahkan bisa tiga kali lipat dari hari biasa.
Pedagang sebagai Saksi Sosial
Para pedagang ini ternyata bukan hanya mencari nafkah di tengah keramaian. Mereka juga menyimpan harapan dan kritik soal apa yang massa serukan. Pak Tono menegaskan bahwa kemerdekaan sejati belum dirasakan rakyat kecil, sementara Ibu Sekartini berharap pemerintah merespons tuntutan mahasiswa agar tidak ada korban. Karena baginya yang juga seorang ibu dari putra yang beranjak dewasa, sangat menyakitkan melihat anak-anak seusia putranya mendapat tindak represif saat berunjuk suara.

Di satu sisi, demonstrasi membuka ruang ekonomi bagi pedagang kecil. Tapi di sisi lain, mereka harus siap menghadapi risiko keamanan, pengusiran, bahkan stigma. Ada pula kecurigaan publik bahwa pedagang bisa jadi “intel” yang menyamar, meski sebagian besar pedagang menepis anggapan itu.
Bertahan dan Berharap
Kehadiran pedagang di tengah demonstrasi memperlihatkan wajah lain dari ruang publik: bahwa perjuangan politik dan ekonomi rakyat seringkali berjalan beriringan. Mereka bertahan dengan dagangan sederhana, sambil berharap suara mereka—seperti halnya suara mahasiswa—didengar oleh pemerintah.
Di jalanan penuh teriakan dan spanduk, secangkir kopi atau seporsi somai menjadi pengingat bahwa di balik tuntutan besar, ada kehidupan sehari-hari yang terus berjalan. Pedagang kaki lima adalah saksi bisu sekaligus bagian dari denyut demokrasi.

