Bandung – Kisah tragis sepasang pendaki muda yang ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di salah satu gunung di Jawa Barat mencuri perhatian publik. Cerita ini menjadi viral setelah seorang saksi mata bernama Hilya mengungkap pengalamannya dalam podcast Denny Sumargo yang dirilis pada Jumat (17/10). Peristiwa ini memancing rasa penasaran masyarakat karena dugaan adanya unsur mistis di balik kejadian tersebut.
Menurut kesaksian Hilya, pasangan itu (yang identitasnya dirahasiakan) masih sangat muda, masing-masing bertahun kelahiran 2000 dan 2001. Saat rombongan mereka mencapai Pos 4, kondisi si perempuan mulai melemah hingga sempat pingsan dan menunjukkan perilaku ganjil seperti orang yang kesurupan.
“Dia tertawa melengking, suaranya berubah seperti bukan dirinya sendiri. Kami sempat mengira dia kesurupan, tapi aku mencoba berpikir positif, mungkin hanya kelelahan,” ujar Hilya.
Setelah sempat ditenangkan, Hilya dan rombongannya memutuskan melanjutkan pendakian menuju puncak. Sementara itu, pasangan tersebut memilih beristirahat dan mendirikan tenda tidak jauh dari lokasi mereka berhenti.

Namun, di malam harinya, Hilya mengaku mendengar suara aneh dari arah tenda pasangan tersebut.
“Sekitar jam sebelas malam, ada suara seperti desahan samar-samar terdengar. Kami kira cuma suara biasa,” tuturnya.
Keesokan paginya, keduanya tak kunjung keluar dari tenda meski matahari sudah tinggi. Hilya mencoba memanggil mereka, namun tidak ada jawaban. Saat tenda dibuka, pemandangan mengerikan terpampang di depan mata.
Dua tubuh muda itu ditemukan kaku, membiru, dan saling menempel erat dengan mata terbuka menatap kosong.
“Saya langsung kaget dan tidak bisa berkata apa-apa,” kata Hilya dalam kesaksiannya.
Temuan tersebut segera dilaporkan ke pihak basecamp. Petugas relawan dan ranger gunung segera melakukan evakuasi ke bawah. Kondisi kedua korban masih saling menempel saat ditemukan, menambah kesan misterius dalam tragedi tersebut.
Berdasarkan hasil autopsi, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Pihak medis menyimpulkan bahwa kedua korban meninggal akibat kejang otot dan pembengkakan fatal saat melakukan hubungan intim dalam suhu ekstrem di puncak gunung.
Fenomena medis ini dikenal sebagai penis captivus, atau yang lebih dikenal masyarakat Indonesia dengan istilah “gancet”. Menurut laporan Medical News Today yang dikutip melalui Kompas.com (11/9), kondisi ini terjadi ketika otot vagina berkontraksi terlalu kuat, sehingga penis tidak dapat terlepas setelah hubungan seksual. Faktor seperti kelelahan, kecemasan, suhu dingin, hingga gangguan sirkulasi darah dapat memicunya. Dalam kondisi ekstrem tanpa pertolongan medis, risiko kematian pun meningkat

Hilya juga mengungkap bahwa sebelum insiden terjadi, korban perempuan sudah tampak kelelahan dan meminta untuk turun. Namun, sang lelaki memutuskan tetap melanjutkan pendakian menuju area puncak.
“Perempuannya sudah menangis dan bilang ingin turun, tapi tidak diizinkan,” ungkapnya.
Evakuasi jenazah dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Menurut laporan Bangka Tribune (24/10), kedua jenazah dibawa ke rumah sakit dalam kondisi masih saling menempel karena tubuh sudah kaku.
Kisah ini kembali viral di media sosial setelah dibahas ulang oleh sejumlah kanal berita dan konten horor di YouTube. Banyak warganet menduga peristiwa tersebut berkaitan dengan “gunung yang meminta tumbal”, meski pihak medis menegaskan penyebab utama adalah faktor fisiologis dan kondisi alam ekstrim.
Hingga kini, lokasi kejadian tersebut masih dianggap angker oleh sebagian pendaki. Beberapa saksi bahkan mengaku mendengar suara aneh di malam hari dari arah bekas tenda tempat tragedi itu terjadi. Meski begitu, para relawan gunung menghimbau masyarakat agar tidak mengaitkan kejadian tersebut dengan hal-hal mistis, melainkan menjadikannya pengingat penting akan risiko ekstrim pendakian dan pentingnya menjaga etika serta kesiapan fisik di alam bebas.
Referensi :
Curhat Bang Denny Sumargo, tribunjateng.com, beritajateng.tv, wahananews.co, bangkapos.com

