{"id":977,"date":"2025-10-11T04:04:32","date_gmt":"2025-10-11T04:04:32","guid":{"rendered":"https:\/\/warta.matradipti.org\/?p=977"},"modified":"2025-10-11T04:40:15","modified_gmt":"2025-10-11T04:40:15","slug":"977","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/","title":{"rendered":"Tradisi Santri Ngecor: Latihan Pendisiplinan yang Dianggap Feodal"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Bandung<\/strong> \u2013 Seorang santri dari Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, membagikan pengalaman mengenai bentuk hukuman yang biasa diterapkan di lingkungan pesantren tersebut. Salah satu bentuk hukuman yang disebutkan adalah membantu proses pengecoran bangunan, yang telah menjadi kebiasaan turun-temurun di pondok. Hukuman ini umumnya diberikan kepada santri yang kedapatan tidak mengikuti kegiatan rutin pondok.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut penuturan santri tersebut kepada <em>detikJatim<\/em>, pekerjaan pengecoran bukan sepenuhnya dilakukan oleh para santri. Tugas utama tetap dikerjakan oleh para tukang bangunan, sementara santri hanya dilibatkan untuk membantu sebagai bentuk sanksi. <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>\u201cKalau ada yang bolos kegiatan, biasanya disuruh bantu ngecor. Itu semacam hukuman,\u201d ujarnya pada Rabu (1\/10) dikutip dari <em>detikJatim<\/em> (2025).<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Santri yang telah enam tahun menimba ilmu di pondok tersebut mengaku tidak berada di lokasi saat musala yang tengah dibangun itu runtuh. Ketika ia kembali ke pondok, bangunan sudah dalam kondisi roboh dan banyak santri tertimpa reruntuhan ketika sedang melaksanakan salat Asar. <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>\u201cMusala itu sudah ambruk saat saya sampai. Imamnya selamat, tapi banyak jamaah yang jadi korban,\u201d ceritanya. Ia pun berencana pulang ke kampung halamannya setelah insiden tragis itu<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1280\" height=\"960\" src=\"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/bnpb.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-987\" style=\"width:436px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/bnpb.webp 1280w, https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/bnpb-300x225.webp 300w, https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/bnpb-1024x768.webp 1024w, https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/bnpb-768x576.webp 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Foto: BNPB<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Kronologi kejadian bermula pada Senin, 29 September 2025 sore, saat ratusan santri sedang melaksanakan salat Asar di musala pondok. Bangunan musala yang masih dalam proses pengecoran tiba-tiba runtuh dan menimpa para santri yang sedang berada di dalam. <\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan keterangan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo, proses evakuasi langsung dilakukan dengan mengerahkan 332 personel gabungan. Sebanyak 50 jenazah korban berhasil diidentifikasi. Proses identifikasi dilakukan secara bertahap sejak kegiatan evakuasi dimulai pada awal pekan lalu.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>\u201cPer Jumat, 10 Oktober, total ada 50 jenazah yang telah berhasil diidentifikasi,\u201d kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dikutip dari Antara, Sabtu (11\/10).<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Ia menjelaskan bahwa Tim Disaster Victim Identification (DVI) masih harus menyelesaikan proses identifikasi terhadap 11 jenazah lain, termasuk lima bagian tubuh korban yang ditemukan secara bertahap oleh tim SAR gabungan di lokasi reruntuhan. Seluruh jenazah yang telah teridentifikasi telah diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk dimakamkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah lain datang dari keluarga korban asal Madura. Seorang kerabat menyebutkan bahwa keponakannya tengah berada di dekat kelompok santri yang membantu pengecoran sebelum musala itu ambruk. <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>\u201cDia lagi bantu ngecor, terus jatuh. Wajahnya luka dan giginya copot,\u201d ungkapnya (<em>detikJatim<\/em>, 2025).<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Peristiwa ini kemudian memicu kritik terhadap sistem tradisi dan pola relasi kekuasaan dalam dunia pesantren. Beberapa pihak menilai bahwa praktik \u201chukuman ngecor\u201d merupakan bagian dari budaya feodal yang masih bertahan di sejumlah pesantren, dimana kiai sering dianggap memiliki posisi dominan dan titah mutlak, sedangkan para santri tidak memiliki ruang kritis.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1265\" height=\"711\" src=\"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/budaya-cor.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-988\" style=\"width:464px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/budaya-cor.jpg 1265w, https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/budaya-cor-300x169.jpg 300w, https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/budaya-cor-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/budaya-cor-768x432.jpg 768w, https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/budaya-cor-800x450.jpg 800w\" sizes=\"auto, (max-width: 1265px) 100vw, 1265px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Foto: Viva.co.id<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Namun, sebagian warganet lainnya berpandapat bahwa tradisi tersebut bukanlah praktik feodalisme, melainkan bentuk ketaatan santri kepada guru atau tanggung jawab terhadap kelalaian mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Dilansir dari <em>blitarkawentar.jawapos<\/em>, diperlukan adanya regulasi khusus yang mengatur standar penyelenggaraan pendidikan di pesantren tanpa menghilangkan kekhasan tradisinya. Aturan ini perlu memastikan hak santri untuk bertanya dan menyampaikan kritik secara terbuka, mendorong transparansi dalam proses pengambilan keputusan, serta menyediakan mekanisme pengaduan yang jelas dan efektif untuk menangani penyalahgunaan wewenang.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, pelatihan mengenai hak asasi manusia bagi para pengelola dan pengajar pesantren juga penting dilakukan agar tercipta lingkungan belajar yang lebih adil, aman, dan partisipatif.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Referensi:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>detikJatim<\/em>.com, <em>detiknews<\/em>.com, <em>jateng.nu.or.id, blitarkawentar.jawapos.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandung \u2013 Seorang santri dari Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, membagikan pengalaman mengenai bentuk hukuman yang biasa diterapkan di lingkungan pesantren tersebut. Salah satu bentuk hukuman yang disebutkan adalah membantu proses pengecoran bangunan, yang telah menjadi kebiasaan turun-temurun di pondok. Hukuman ini umumnya diberikan kepada santri yang kedapatan tidak mengikuti kegiatan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":986,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[232,69,234,233,231,229,68],"class_list":["post-977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-budaya","tag-bangunan","tag-budaya-2","tag-jawa-timur","tag-pendidikan","tag-pesantren","tag-santri","tag-tradisi-2"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.8 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Tradisi Santri Ngecor: Latihan Pendisiplinan yang Dianggap Feodal - Warta Matra<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tradisi Santri Ngecor: Latihan Pendisiplinan yang Dianggap Feodal - Warta Matra\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Bandung \u2013 Seorang santri dari Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, membagikan pengalaman mengenai bentuk hukuman yang biasa diterapkan di lingkungan pesantren tersebut. Salah satu bentuk hukuman yang disebutkan adalah membantu proses pengecoran bangunan, yang telah menjadi kebiasaan turun-temurun di pondok. Hukuman ini umumnya diberikan kepada santri yang kedapatan tidak mengikuti kegiatan&hellip;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Warta Matra\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-11T04:04:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-11T04:40:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ngecor-scaled-e1760157040591.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Syifa Uswatun\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Syifa Uswatun\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/\"},\"author\":{\"name\":\"Syifa Uswatun\",\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/#\/schema\/person\/4fe6a185d555881eea037365f177d67b\"},\"headline\":\"Tradisi Santri Ngecor: Latihan Pendisiplinan yang Dianggap Feodal\",\"datePublished\":\"2025-10-11T04:04:32+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-11T04:40:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/\"},\"wordCount\":527,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ngecor-scaled.jpg\",\"keywords\":[\"bangunan\",\"budaya\",\"Jawa Timur\",\"pendidikan\",\"pesantren\",\"santri\",\"tradisi\"],\"articleSection\":[\"Budaya\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/\",\"url\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/\",\"name\":\"Tradisi Santri Ngecor: Latihan Pendisiplinan yang Dianggap Feodal - Warta Matra\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ngecor-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2025-10-11T04:04:32+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-11T04:40:15+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ngecor-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ngecor-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1920,\"caption\":\"Foto: gontor.ac.id (gambar hanya sebagai ilustrasi)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tradisi Santri Ngecor: Latihan Pendisiplinan yang Dianggap Feodal\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/#website\",\"url\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/\",\"name\":\"Warta Matra\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/#organization\",\"name\":\"Warta Matra\",\"url\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/cropped-cropped-cropped-WhatsApp-Image-2025-08-21-at-21.43.55_f535fa61-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/cropped-cropped-cropped-WhatsApp-Image-2025-08-21-at-21.43.55_f535fa61-1.jpg\",\"width\":350,\"height\":100,\"caption\":\"Warta Matra\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/#\/schema\/person\/4fe6a185d555881eea037365f177d67b\",\"name\":\"Syifa Uswatun\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e9f660807f6184f712583f38c279e15ce8fb48349ea259c122ca946888475977?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e9f660807f6184f712583f38c279e15ce8fb48349ea259c122ca946888475977?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Syifa Uswatun\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-admin\/profile.php\",\"https:\/\/www.instagram.com\/syifauswtn?igsh=aXFoN3BtOTAxaGY3\",\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/syifa-uswatun-khasanah-ba081b297?utm_source=share&utm_campaign=share_via&utm_content=profile&utm_medium=android_app\"],\"url\":\"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/author\/syifauswatun\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tradisi Santri Ngecor: Latihan Pendisiplinan yang Dianggap Feodal - Warta Matra","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Tradisi Santri Ngecor: Latihan Pendisiplinan yang Dianggap Feodal - Warta Matra","og_description":"Bandung \u2013 Seorang santri dari Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, membagikan pengalaman mengenai bentuk hukuman yang biasa diterapkan di lingkungan pesantren tersebut. Salah satu bentuk hukuman yang disebutkan adalah membantu proses pengecoran bangunan, yang telah menjadi kebiasaan turun-temurun di pondok. Hukuman ini umumnya diberikan kepada santri yang kedapatan tidak mengikuti kegiatan&hellip;","og_url":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/","og_site_name":"Warta Matra","article_published_time":"2025-10-11T04:04:32+00:00","article_modified_time":"2025-10-11T04:40:15+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1280,"url":"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ngecor-scaled-e1760157040591.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Syifa Uswatun","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Syifa Uswatun","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/"},"author":{"name":"Syifa Uswatun","@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/#\/schema\/person\/4fe6a185d555881eea037365f177d67b"},"headline":"Tradisi Santri Ngecor: Latihan Pendisiplinan yang Dianggap Feodal","datePublished":"2025-10-11T04:04:32+00:00","dateModified":"2025-10-11T04:40:15+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/"},"wordCount":527,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ngecor-scaled.jpg","keywords":["bangunan","budaya","Jawa Timur","pendidikan","pesantren","santri","tradisi"],"articleSection":["Budaya"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/","url":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/","name":"Tradisi Santri Ngecor: Latihan Pendisiplinan yang Dianggap Feodal - Warta Matra","isPartOf":{"@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ngecor-scaled.jpg","datePublished":"2025-10-11T04:04:32+00:00","dateModified":"2025-10-11T04:40:15+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#primaryimage","url":"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ngecor-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/ngecor-scaled.jpg","width":2560,"height":1920,"caption":"Foto: gontor.ac.id (gambar hanya sebagai ilustrasi)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/2025\/10\/11\/977\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/warta.matradipti.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tradisi Santri Ngecor: Latihan Pendisiplinan yang Dianggap Feodal"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/#website","url":"https:\/\/warta.matradipti.org\/","name":"Warta Matra","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/warta.matradipti.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/#organization","name":"Warta Matra","url":"https:\/\/warta.matradipti.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/cropped-cropped-cropped-WhatsApp-Image-2025-08-21-at-21.43.55_f535fa61-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/cropped-cropped-cropped-WhatsApp-Image-2025-08-21-at-21.43.55_f535fa61-1.jpg","width":350,"height":100,"caption":"Warta Matra"},"image":{"@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/#\/schema\/person\/4fe6a185d555881eea037365f177d67b","name":"Syifa Uswatun","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/warta.matradipti.org\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e9f660807f6184f712583f38c279e15ce8fb48349ea259c122ca946888475977?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/e9f660807f6184f712583f38c279e15ce8fb48349ea259c122ca946888475977?s=96&d=mm&r=g","caption":"Syifa Uswatun"},"sameAs":["https:\/\/warta.matradipti.org\/wp-admin\/profile.php","https:\/\/www.instagram.com\/syifauswtn?igsh=aXFoN3BtOTAxaGY3","https:\/\/www.linkedin.com\/in\/syifa-uswatun-khasanah-ba081b297?utm_source=share&utm_campaign=share_via&utm_content=profile&utm_medium=android_app"],"url":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/author\/syifauswatun\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=977"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/977\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":993,"href":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/977\/revisions\/993"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/986"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/warta.matradipti.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}