Bandung, 24 April 2026—Isu mengenai konsumsi ikan asin yang dikaitkan dengan risiko kanker nasofaring kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Kanker nasofaring sendiri merupakan keganasan yang berasal dari jaringan di bagian atas faring, tepatnya di belakang hidung. Meskipun penyebab pastinya belum diketahui secara pasti, para peneliti mengidentifikasi sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena penyakit ini, salah satunya adalah pola konsumsi makanan yang diawetkan dengan garam, termasuk ikan asin.
Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2022, kanker nasofaring menempati peringkat keempat jenis kanker pada laki-laki di Indonesia dengan 14.497 kasus baru atau sekitar 7,7 persen dari total kasus kanker pada laki-laki. Sementara itu, World Cancer Research Fund mencatat bahwa China, Indonesia, dan India termasuk negara dengan jumlah kasus kanker nasofaring tertinggi di dunia.
Ikan asin merupakan makanan yang diawetkan melalui proses penggaraman dan pengeringan, sehingga kadar garam dalam ikan meningkat signifikan. Proses ini dapat memicu terbentuknya senyawa N-nitroso, yaitu zat karsinogenik yang terbentuk dari reaksi antara amina dalam ikan dan nitrat atau nitrit dalam garam. Selain itu, konsumsi makanan ini juga dikaitkan dengan aktivasi virus Epstein-Barr (EBV), virus yang ditemukan pada sebagian besar kasus kanker nasofaring.
Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi ikan asin dengan peningkatan risiko kanker nasofaring, terutama jika dikonsumsi dalam frekuensi tinggi dan dalam jangka waktu lama. Risiko ini bahkan lebih tinggi jika konsumsi sudah dimulai sejak masa kanak-kanak. Sebuah studi juga menyebutkan bahwa konsumsi ikan asin lebih dari tiga kali dalam sebulan dapat meningkatkan risiko hingga 1,65 kali dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.
Namun demikian, penelitian terbaru menunjukkan hasil yang lebih kompleks. Studi kasus-kontrol skala besar di China menemukan bahwa tidak semua jenis ikan asin memiliki tingkat risiko yang sama. Ikan asin jenis tertentu justru tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan peningkatan risiko kanker nasofaring pada usia dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa jenis ikan asin, jumlah konsumsi, serta waktu konsumsi menjadi faktor penting yang memengaruhi tingkat risiko.
Selain faktor makanan, terdapat beberapa faktor lain yang juga berperan dalam meningkatkan risiko kanker nasofaring, seperti jenis kelamin laki-laki, faktor genetik, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, serta infeksi virus seperti Epstein-Barr dan HPV. Lingkungan geografis juga turut memengaruhi, di mana penyakit ini lebih umum ditemukan di wilayah Asia Tenggara, China Selatan, dan Afrika Utara.
Kanker nasofaring berkembang akibat mutasi DNA pada sel-sel di nasofaring yang menyebabkan pertumbuhan sel tidak normal hingga membentuk tumor. Gejala awal yang sering muncul meliputi benjolan di leher, hidung tersumbat, mimisan, gangguan pendengaran, serta nyeri di telinga atau tenggorokan. Pada stadium lanjut, gejala dapat berkembang menjadi gangguan penglihatan, sakit kepala, hingga kelemahan pada wajah.
Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa memiliki faktor risiko tidak selalu berarti seseorang pasti akan terkena kanker nasofaring. Banyak individu dengan faktor risiko tidak pernah mengalami penyakit ini, sementara sebagian lainnya dapat terkena tanpa faktor risiko yang jelas.
Dengan demikian, konsumsi ikan asin memang dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kanker nasofaring, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan dan sejak usia dini. Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk menerapkan pola makan seimbang, mengurangi konsumsi makanan yang diawetkan dengan garam, serta memperbanyak asupan makanan segar seperti buah dan sayuran guna menurunkan risiko penyakit.
Referensi: idntimes.com, iccc.id

