Bandung – Kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memicu keprihatinan publik. Seorang siswi sekolah dasar di Sukabumi, Jawa Barat, dilaporkan mengalami hilang ingatan parsial seusai menyantap paket makanan program pemerintah tersebut pada awal September 2026. Insiden ini memicu desakan publik agar Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Kesehatan segera bertanggung jawab penuh atas pemulihan korban.
Peristiwa bermula saat ratusan siswa serentak mengalami gejala mual, pusing parah, dan dehidrasi akut beberapa jam setelah jam makan siang di sekolah. Korban dilarikan ke rumah sakit umum daerah setempat. Namun, berbeda dengan sebagian besar siswa yang pulih setelah rawat inap singkat, siswi ini justru menunjukkan disorientasi kognitif berat hingga lupa pada keluarga dan nama sendiri. Tim medis menduga ensefalopati toksik atau peradangan saraf akibat racun bakteri dalam makanan menjadi pemicu utama gangguan saraf tersebut.
Kasus ini sontak menyita sorotan publik dan lembaga advokasi hak anak. Publik mendesak BGN tidak hanya berhenti pada klarifikasi formal, melainkan menjamin kompensasi penuh, menanggung seluruh biaya perawatan neurologis lanjutan, serta memberikan pendampingan psikososial intensif bagi keluarga korban hingga kondisinya pulih total.
Kementerian Kesehatan menyatakan telah menerjunkan tim penyelidikan epidemiologi dan mengambil sampel makanan untuk pengujian laboratorium mikrobiologi. Evaluasi ketat terhadap standar operasional prosedur (SOP) pengolahan serta sanitasi di dapur penyedia katering pihak ketiga mutlak berjalan agar risiko kontaminasi pangan fatal tidak terulang kembali.Di tengah pembicaraan hangat di ruang digital dan media hiburan keluarga, peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi ekosistem perlindungan gizi nasional. Program nasional yang bermaksud mulia untuk mencerdaskan generasi penerus tidak boleh sampai mengorbankan fungsi vital dan masa depan satu anak pun.

