Categories Breaking News

Demi Viral, Konten Prank Pocong Malah Bikin Resah di Tengah Sulitnya Ekonomi

Bandung – Belakangan ini medsos kita lagi ramai soal “teror pocong” palsu yang bikin resah. Saking parahnya, Polda Jateng dan Polres Bangkalan sampai harus turun tangan menangkap sekelompok pemuda. Mereka nekat dandan jadi pocong cuma demi bikin konten prank. Bahkan, ada satu video di Desa Mrandung yang bikin heboh karena pocongnya berdiri di pinggir jalan sambil bawa celurit. Aksi konyol ini jelas bikin warga ketakutan, padahal masyarakat sendiri sudah cukup pusing memikirkan kondisi ekonomi yang lagi sulit.

Saat diperiksa polisi, motif para pelaku ternyata sangat klise, yaitu cuma demi views dan pengin viral secara instan. Tujuh pemuda (SF, ZH, KN, IM, RH, N, dan I) langsung diamankan setelah video aksi mereka menyebar di grup WhatsApp warga. Awalnya, warga sempat panik karena mengira itu teror mistis atau begal nyata. Polisi akhirnya menyita kain kafan serta celurit sebagai barang bukti, lalu membawa para pelaku ke kantor polisi untuk dibina.

Kalau dipikir-pikir, fenomena nekat ini sebenarnya ada hubungannya dengan kondisi ekonomi kita yang lagi lesu. Sekarang cari kerja makin susah, makanya dunia digital seperti TikTok atau YouTube sering dianggap sebagai jalan pintas buat cari uang. Sayangnya, demi mengejar rating dan algoritma, akal sehat sering kali hilang. Konten yang bikin kaget dan takut sengaja dipilih karena jenis konten inilah yang paling cepat viral di saat psikologis masyarakat lagi stres.

Mari kita lihat dari sisi kemanusiaan, karena aksi egois ini jelas merugikan masyarakat kecil. Di satu sisi, ada anak muda yang frustrasi cari uang di internet pakai cara yang salah. Tapi di sisi lain, korbannya adalah para pejuang rupiah yang terpaksa pulang larut malam. Pedagang kaki lima, driver ojol, sampai lansia adalah pihak yang paling kasihan karena harus ketakutan di jalan yang sepi.

Polisi mengingatkan bahwa bikin konten yang memicu keonaran seperti ini bisa dijerat hukum UU ITE. Meskipun tujuh pemuda di Bangkalan akhirnya dibebaskan setelah meminta maaf secara terbuka, kasus ini harus jadi pelajaran penting buat kita semua. Kreativitas digital sama sekali enggak boleh mengorbankan ketenangan jiwa orang lain. Di masa sulit begini, kita lebih butuh konten yang menghibur dan saling menguatkan, bukan teror kain putih yang bikin susah warga.

Referensi: Kompas.com, Detik.com, CNBC

More From Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Sumber: SinarIndonesia

Dugaan Suap Impor Seret Nama Dirjen Bea Cukai, Kepercayaan Publik Dipertaruhkan

Bandung – Nama Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Djaka Budhi Utama, tengah menjadi sorotan publik.…

Lima WNI Ditahan Israel Saat Misi Kemanusiaan Global Sumud Flotilla Menuju Gaza

Bandung, 20 Mei 2026—Lima warga negara Indonesia (WNI) yang terdiri dari empat jurnalis dan satu…

Rupiah Melemah ke Rp17.630 per Dolar AS pada Awal Perdagangan Pekan 

Bandung, 18 Mei 2026—Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pertama pekan ini dengan mengalami pelemahan terhadap…