BANDUNG – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung berkolaborasi dengan Telkom University resmi meluncurkan implementasi Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa sistem integrasi Microchip Radio Frequency Identification (RFID). Langkah inovatif ini diterapkan khusus untuk mendigitalisasi registrasi dan identifikasi populasi kucing liar di wilayah Kota Bandung melalui aplikasi E-Laman Hati. Masalah klasik yang kerap dihadapi oleh petugas lapangan adalah sulitnya mengenali individu hewan liar secara akurat dan permanen.
Metode penandaan konvensional seperti penggunaan kalung atau pemotongan ujung telinga (ear-notch) seringkali rusak, hilang, atau sulit diidentifikasi dari jarak jauh. Celah ini memicu terjadinya duplikasi data riwayat kesehatan serta menurunkan validitas peta sebaran penyakit zoonosis seperti rabies. Guna mengatasi kendala tersebut, tim pengabdian masyarakat Telkom University yang dipimpin oleh Rahmat Yasirandi sukses mengintegrasikan perangkat keras RFID Reader dengan modul registrasi pada aplikasi E-Laman Hati. Teknologi ini memanfaatkan Microchip RFID Biokompatibel berstandar internasional (ISO 11784/11785).
Chip mini ini ditanam secara aman dan permanen di bawah jaringan kulit hewan serta membawa kode identifikasi unik 15 digit yang tidak dapat diduplikasi, bertindak sebagai “KTP Digital” sang kucing. “Integrasi teknologi RFID ini berhasil menutup celah validitas data masa lalu. Melalui fitur baru ‘Cek Data DinaHate’ di aplikasi mobile petugas, proses pemindaian data riwayat vaksinasi rabies dan status sterilisasi di lapangan kini dapat diakses secara instan, akurat, dan real-time,” ujar tim pengembang Telkom University. Pelatihan Medis dan Pemetaan Digital SpasialTak hanya berfokus pada sistem digital, penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) internal juga menjadi prioritas.
Pada Rabu, 1 Juli 2026, bertempat di Rumah Potong Hewan (RPH) DKPP Kota Bandung, telah dilaksanakan pelatihan teknis intensif bagi para petugas lapangan dan tenaga medik veteriner DKPP. Sesi praktik langsung (hands-on) ini membekali aparatur dengan keterampilan penyuntikan chip yang steril serta manajemen database digital. Dampak implementasi ini pun langsung terasa pada aspek manajerial. Data identitas unik dari chip RFID kini terhubung langsung dengan peta sebaran choropleth (pewarnaan wilayah) pada dashboard E-Laman Hati. Visualisasi spasial yang presisi dan bebas bias ini menjadi landasan kuat bagi pemerintah untuk merencanakan kebijakan kesehatan masyarakat veteriner secara lebih efisien dan terukur.
DKPP kini dapat memetakan zona risiko penyakit menular serta mengalokasikan anggaran untuk program Trap-Neuter-Return (TNR) secara tepat sasaran. Melalui sinergi teknologi informasi dan peternakan digital ini, diharapkan ekosistem tata kelola pemerintahan berbasis data (data-driven government) di Kota Bandung semakin kokoh. Langkah berkelanjutan ini optimis dapat menekan risiko penularan penyakit zoonosis sekaligus meningkatkan standar kesejahteraan hewan liar di Kota Bandung secara nyata.

