Bandung, 25 Mei 2026—Hari Raya Idul Adha identik dengan beragam olahan daging kurban yang menggugah selera, mulai dari sate, gulai, rendang, hingga tongseng. Di balik kenikmatan tersebut, banyak orang mulai khawatir dengan risiko meningkatnya kadar kolesterol akibat konsumsi daging yang berlebihan. Padahal, kekhawatiran tersebut tidak hanya dipengaruhi jumlah daging yang dikonsumsi, tetapi juga cara pengolahannya.
Daging merah seperti sapi dan kambing memang mengandung lemak jenuh dan kolesterol. Namun, kandungan kolesterol pada daging tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh bagian daging yang dipilih dan metode memasaknya. Potongan seperti has dalam, tenderloin, sirloin tanpa lemak, atau paha memiliki kandungan lemak yang lebih rendah dibandingkan bagian berlemak maupun jeroan.
Salah satu cara sederhana yang dapat diterapkan adalah menggunakan teknik perebusan dua tahap. Air rebusan pertama disarankan dibuang karena biasanya mengandung lemak dan sisa kotoran yang keluar dari daging. Setelah itu, proses memasak dapat dilanjutkan menggunakan air baru. Selain membantu mengurangi lemak, cara ini juga dapat membuat aroma khas daging menjadi lebih ringan.
Selain direbus, metode memasak seperti memanggang atau menggunakan air fryer juga dapat menjadi pilihan yang lebih sehat dibandingkan menggoreng dengan banyak minyak. Saat dipanggang, sebagian lemak alami pada daging akan menetes keluar sehingga hasil masakan terasa lebih ringan. Penggunaan bumbu alami seperti bawang putih, jahe, ketumbar, dan lada juga dapat membantu memperkuat cita rasa tanpa perlu tambahan minyak atau penyedap berlebihan.
Tidak hanya cara memasak, keseimbangan menu saat makan juga perlu diperhatikan. Konsumsi daging sebaiknya disertai dengan sayuran tinggi serat seperti timun, tomat, brokoli, atau buncis. Serat dapat membantu tubuh mengatur penyerapan lemak sekaligus membuat rasa kenyang bertahan lebih lama. Buah seperti nanas, pepaya, apel, atau jeruk juga dapat menjadi pilihan pendamping setelah makan.
Kebiasaan yang sering dilakukan setelah Idul Adha, seperti memanaskan gulai atau semur berkali-kali, juga sebaiknya mulai diperhatikan. Pemanasan berulang dapat membuat lapisan minyak semakin terlihat dan membuat masakan terasa lebih berat saat dikonsumsi. Cara yang lebih praktis adalah menyimpan makanan dalam beberapa wadah kecil agar cukup dipanaskan sesuai kebutuhan.
Pada akhirnya, menikmati hidangan kurban tetap bisa dilakukan tanpa rasa khawatir berlebihan. Dengan memilih potongan daging yang tepat, menggunakan teknik memasak yang lebih sehat, serta menjaga pola makan seimbang, masyarakat tetap dapat menikmati momen Idul Adha dengan lebih nyaman dan sehat bersama keluarga.
Referensi: idntimes.com, kpoin.com

