Categories Kesehatan

Kenali Risiko Kesehatan Terlalu Sering Konsumsi Ayam Geprek

Bandung – Ayam geprek menjadi salah satu makanan cepat saji yang sangat populer di kalangan mahasiswa maupun pekerja muda. Rasa gurih dan pedas, porsi yang mengenyangkan, serta harga terjangkau membuat menu ini sering dijadikan pilihan utama saat lapar. Namun, di balik kenikmatannya, konsumsi ayam geprek terlalu sering ternyata menyimpan sejumlah risiko kesehatan yang patut diwaspadai.

Dikutip dari Detikfood (22/6), menurut penjelasan ahli gizi Abraham Theodore, satu porsi ayam geprek seberat 150 gram mengandung sekitar 394 kalori, hampir 27 gram lemak, dan 690 miligram natrium. Angka tersebut cukup tinggi, apalagi jika dikombinasikan dengan nasi putih dalam porsi besar. Asupan berlebihan dapat memicu obesitas, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular. Selain itu, proses penggorengan yang biasanya menggunakan minyak berulang, meningkatkan kadar lemak trans yang berbahaya bagi kesehatan jantung.Sambal pedas yang menjadi ciri khas ayam geprek juga dapat menimbulkan masalah pencernaan. Kandungan capsaicin pada cabai memang memberi sensasi nikmat, tetapi jika dikonsumsi berlebihan bisa menyebabkan maag, refluks asam, hingga diare. Bagi sebagian orang, tingkat kepedasan yang terlalu tinggi bahkan berpotensi merusak dinding lambung.

Selain itu, penelitian oleh BMC Public Health tahun 2022 juga menunjukkan bahwa konsumsi makanan pedas yang lebih sering dan dengan tingkat kepedasan tinggi dikaitkan dengan profil risiko penyakit kardiovaskular (CVD) yang tidak menguntungkan, seperti indeks massa tubuh (BMI) lebih tinggi, tekanan darah meningkat, kadar trigliserida lebih tinggi, serta kadar HDL yang lebih rendah. Hal ini menegaskan bahwa konsumsi pedas berlebihan bukan hanya berdampak pada pencernaan, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan jantung dan metabolisme tubuh.

Foto : Liputan6.com

Faktor kebersihan warung makan pun tidak kalah penting. Tempat yang kurang higienis dapat menyebabkan kontaminasi bakteri, termasuk pemicu tifoid. Lebih jauh lagi, konsumsi ayam olahan secara terus-menerus berhubungan dengan risiko resistensi antibiotik. Hal ini terjadi karena sebagian besar peternakan ayam menggunakan antibiotik untuk mencegah penyakit, dan residu obat tersebut bisa terbawa dalam daging yang kita santap.

Meski begitu, tidak dilarang sepenuhnya mengkonsumsi ayam geprek. Disarankan membatasi frekuensinya 2–3 kali seminggu serta menyeimbangkannya dengan makanan sehat lain seperti ikan, tahu, tempe, sayuran, dan buah. Dengan pola makan seimbang, masyarakat tetap bisa menikmati lezatnya ayam geprek tanpa harus mengorbankan kesehatan jangka panjang.

Referensi:

detikfood.com, http://biomedcentral.com, kumparan.com

More From Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Alarm Kemanusiaan Karhutla Menguak Laporan 3560 Korban Jiwa di Balik Kepulan Asap Beracun

Bandung – Laporan mengejutkan mengenai eskalasi krisis lingkungan kembali memicu perhatian publik setelah lembaga riset…

Mengapa Pembalut Masih Dianggap Barang Mewah? Saatnya Indonesia Hapus Pajak Kebersihan Perempuan

Bandung – Gelombang protes masyarakat kembali mencuat di media sosial terkait pengenaan Pajak Pertambahan Nilai…

Menghirup Janji di Tengah Asap Karhutla: Menguji Ketegasan Hukum dan Inovasi ‘Dry Ice’ di Tanah Kalimantan

Bandung – Di balik pekatnya kabut asap yang menyelimuti wilayah Kalimantan dan Sumatera, terdapat potret…