Categories Budaya

Pekuburan Sentosa Sebagai Kompleks Pemakaman Tionghoa Terbesar di Asia Tenggara

Pangkalpinang—Pekuburan Sentosa atau Tjung Hoa Kung Mu Yen yang terletak di Jalan Soekarno Hatta, Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, dikenal sebagai kompleks pemakaman etnis Tionghoa terbesar di Asia Tenggara dengan luas sekitar 19,9 hektare dan lebih dari 13.000 makam yang tersebar di kawasan perbukitan.

Kompleks pemakaman ini memiliki nilai sejarah yang kuat. Dibangun pada tahun 1935, Pekuburan Sentosa merupakan sumbangan dari marga Boen, dengan makam tertua diperkirakan berasal dari tahun 1915 milik keluarga Boen Sun Yat Sen. Pendirian kawasan ini juga tidak lepas dari peran empat tokoh pelopor, yaitu Yap Fo Sun, Chin A Heuw, Yap Ten Thiam, dan Lim Sui Cian, yang berkontribusi dalam pengembangan area pemakaman hingga menjadi seperti saat ini.

Keunikan Pekuburan Sentosa terletak pada bentuk dan arsitektur makam yang beragam. Setiap makam dibangun dengan desain khas yang dihiasi aksara Cina yang indah, sekaligus mencerminkan status sosial ekonomi keluarga yang dimakamkan. Beberapa makam bahkan dibangun menggunakan material granit dengan nilai mencapai ratusan juta rupiah. Penataan makam yang rapi di area perbukitan juga memberikan kesan tertib dan tidak menyeramkan bagi pengunjung yang melintas di kawasan tersebut.

Selain sebagai tempat pemakaman etnis Tionghoa, kawasan ini juga mencerminkan nilai toleransi dan keberagaman. Di dalam kompleks ditemukan makam dari latar belakang kepercayaan yang berbeda, termasuk Konghucu, Hindu, Budha, Kristen, Katolik dan Islam, meskipun mayoritas tetap didominasi oleh tradisi pemakaman Tionghoa. Keberadaan beberapa makam Muslim menjadi salah satu keunikan tersendiri, meskipun latar belakangnya belum diketahui secara pasti.

Pengelolaan Pekuburan Sentosa berada di bawah Yayasan Sentosa yang menyediakan berbagai pilihan lahan pemakaman. Selain menyediakan makam dengan desain khusus dan material berkualitas tinggi, pengelola juga memberikan fasilitas pemakaman gratis bagi masyarakat kurang mampu, sehingga kawasan ini tidak hanya memiliki nilai budaya tetapi juga sosial.

Setiap tahun, Pekuburan Sentosa menjadi pusat pelaksanaan tradisi Ceng Beng atau Qing Ming. Pada momen ini, masyarakat Tionghoa dari berbagai daerah kembali ke Pangkalpinang untuk melakukan sembahyang kubur sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Menjelang puncak perayaan yang jatuh setiap 5 April, keluarga biasanya melakukan kegiatan bersih-bersih makam, seperti mencabut rumput dan mengecat ulang, yang sekaligus menjadi ajang berkumpul bersama keluarga besar.

Keberadaan Pekuburan Sentosa tidak hanya merepresentasikan tradisi leluhur etnis Tionghoa, tetapi juga memperlihatkan harmonisasi kehidupan masyarakat multikultural di Kota Pangkalpinang. Selain dikenal dengan perayaan Imlek, tradisi Ceng Beng turut menjadi momen penting yang menghidupkan suasana kota setiap tahunnya, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap leluhur.

Referensi: wonderful.pangkalpinangkota.go.id, sumsel.idntimes.com, tiktok.com/koko.bangka.ngin

More From Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

WFH ASN Setiap Jumat Mulai Dilaksanakan Hari Ini 

Bandung, 10 April 2026—Pemerintah telah resmi melaksanakan kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil…

Sumber: Merdeka.com/Kemenko Perekonomian, Airlangga Hartarto

WFH Sehari dalam Seminggu: Solusi Cerdas Hemat BBM atau Sekadar Tren Sesaat?

Bandung – Pemerintah tengah mengkaji kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) satu…

Tradisi Patroli Sahur di Kota Malang “Gerpakkk” sedang Viral di Media Sosial

Bandung — Fenomena patroli sahur bertajuk “Gerpakkk” di Kota Malang, Jawa Timur, menjadi perbincangan hangat…